RUANG LINGKUP PSIKOLOGI AGAMA
Psikologi agama adalah
salah satu cabang dari sikologi yang mempelajari tentang pengaruh keyakinan
agama terhadap sikap dan prilaku seseorang. menurut Zakiah Dratjat, psikologi
agama adalah ilmu yang meneiiti tentang pengaruh agama terhadap sikap dan
prilaku seseorang atau mekanisme yang berbeda dalam diri seseorang, karena cara berfikir seseorang, bersikap ,
bereaksi, dan berprilaku, tidak dapat dipisahkan dari keyakinannnya, karena
keyakinan itu masuk dalam kontruksi kepribadiannya.
Bimbingan dan koseling islam juga
bertujuan untuk membantu manusia agar keluar dari berbagai kesulitan dengan
kekuatan dirinya sendiri dan sselalu dikaitkan dengan norma agaama oleh karena
itu kita juga perlu memppelajari psikologi agama, karena seperti yang di
ketahui bahwa psikologi agama sebagai salah satu cabang dari psikologi juga
ilmu terapan. psikologi agama sejalan dengan ruang ruang lingkup kajiannnya
telah banyak nya memberi sumbangan dalammemecahkan persoalan kehidupan manusia dalam
kaitannya dengan agama yang dianut. kemudian bagaimana rasa keagamaan itu
tumbuh dan berkembang pada diri seseorang dalam tingkat usia tertentu, ataupun
bagaimana perasaan keagamaan itu dapat mempengaruhi ketentraman batinnya,
maupun berbagai konflik yang terjadi dalam diri seseorang hingga ia menjadi
lebih taat dalam menjalankan ajaran agamanya atau meninggalkan agama itu sama
sekali.
Sejarah psikologi agama sebagai
salah satu bidang psikologi yang mempelajari dinamika psikologis
fenomena-fenomena keagamaan memang mengalami fluktuasi. bidang itu
sebenarnya suda mulai muncul pada akhir
abad ke 19 dan permulaan abad ke 20
besamaan lahirnya psokologi modern sendiri.
Untuk menetapan secara pasti kapan
psikologi agama itu mulai mempelajari memang agak sulit. baik dalam kitab suci
maupun sejarah agama-agama tidak dijumpai
penjelasan mengenai hal itu.
tetapi penjelasan mengenai hubungan antara kejiwaan dengan agama banyak di
ungkapkan oleh berbagai kitab suci. seperti seseprang yang beriman kepada ALLAH
SWT, berbuat baik dan banyak beribadah akan menjadikan jiwanya tenang dan
tentram dan akan bahagia di dunia akhirat. Begitu jua sebaliknya, orag yang
berbuat yang tidak beriman dan berbuat kemaksiatan dia akan gundah dan tidak
nyaman. hal ini dijadikan contoh bahwa kajian psikologi agama secara tidak
langsung telah dikaji dalam sejarah
agama dan kitab suci.
Salah satu perkembangan jiwa
keagamaan pada manusia adalah orang dewasa dan usia lanjut, sebagai akhir dari
masa remaja adalah masa edolesen, walaupn da juga yang memasukkan masa edolosen
ini kepada masa dewasa namun demikian dapat disebut bahwa masa adolesen adalah
menginjak dewaasa yang mereka mempunyai sikap pada umummnya
·
dapat menentukan pribadinya
·
dapat menggariskan jalan hidup
·
bertanggung jawab
·
mengimpun norma norma hidup
a. Masa dewasa awal (masa dewasa
dini/young adult)
masa dewasa awal adalah masa pencaharian kemantapan dan
masa, reproduktif yaitu suatu masa yang
penuh dengan masalah dan ketegangan emosiona peride isolasi sosial, periode komitmen dan masa
ketergaantungan,perubahan nilai-nilai , kreaktifitas dan penyusuaian diri pada
pola hidup yang baru. kisaran umurnya antara 21 tahun sampai 40 tahun.
b. Masa dewasa madya (middle adulthood)
Masa dewasa madya ini berlangsung dari umur 40 sampai 60 tahun.
ciri ciri yang menyangkut pribadi dan sosial antara lain: masa dewasa madya
merupakan masa transisi, dimana pria dan wanita meninggalkan ciri ciri jasmani
dan prilaku masa dewasanya dan memasuki suatu periode dalam kehidupan dengan
ciri ciri jasmani da prilaku yang baru . perhatian terhadap agama lebih beesar
dibandigkan dengan masa sebelumnya, dan kadang- kadang minat dengan prhatiaannya
terhadap agama ini didilandasi kebutuhan pribadi dan sosial.
c. Masa
usia lanjut (masa tua/ older adult)
Usia lanjut adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang
masa ini dimulai dari umur 60 tahun sampai mati, yang di tandai dengan adanya
perubahan yang bersifat fisik dan psikologis yang semakin menurun. Adapun
ciri-ciri yang berkaitan dengan pnyesuaian pribadi dan sosialnya adalah sebagai berikut; perubahan
yang menyangkut kenumpuan niotorik, perubahan kekuatan fisik, perubahan dalam
fungsi psikologis, perubahan dalam sistem syaraf, perubahan penampilan. Tingkah
laku keagamaan orang dewasa memliki perpektif yang luas didasarkan pada nilai
yang dipilihnya.selain itu tingkah laku itu umumnya juga dilandasi oleh
pendalaman pengertian dan keluasan pemahaman tentang ajara agama yang di
anutnya. beragama bagi orang dewasa sudah merupakan bagian dari komitmen hidupn
ya dan bukan sekedar ikut-ikutan. Menurut Jalauddin, gambaran dan cerminan
tingkah laku keagamaan orang dewasa dapat pula dilihaat dari sikap
keagamaannnya yang memiliki ciri-ciri antara lain:
·
menerimaa kebenaran, agama berdasarkan pertimbangan pemikiran yang
matang, bukan cara ikut-ikutan
·
bersifat cenderung realis, sehingga norma
norma agama lebih banyak di aplikasikan dalam sika dan tingkah laku
·
bersifat positif thinking terhadap ajaran dan
norma norma agama dan berusaha mempelajari dan pemaahaman agama.
·
tingkat dan agama, berdasarkan atas
pertimbangan dan tanggung jawab diri sehingga sikap keberagamaan merupakan
realisasi diri dari sikap hidup
·
bersikap yang lebih terbuka da wawasan yang
lebih luas
·
bersikap lebih kritis terhadap materi ajaran
agama sehingga kemantapan beragama selain didasarkan atas pertimbangan pikiran juga ddasarkan atas pertmbangan hati nurani
sikap keberragaamaan cenderung mengarah pada tipe-tipe kepribadian
masing-masing seingga terikat adanya pengaruh kepribadian dalam menerima, memahami,
serta melaksanakan ajaran agama yang di
yakininya.
·
terihat hubungan antara sikap keberagamaan dengan
kehidupan sosial sehingga perhatian terhadap kepentingan organisasi
sosialkeagamaan sudah berkembang.
Sedangkan secara garis besar ciri-ciri
keberagamaan orang yang sudah usia lanjut diantaranya:
·
kehidupan keagamaan pada usia lanjut sudah
mencapai tingkat kemantapan
·
meningkatnya kecendurungan untuk menerima
pendapat keagamaan.
·
mulai muncul pengankuan terhadap realiatas
tentang kehidupan akhirat secara lebih sungguh-sungguh.
·
sikap keagamaan cenderung mengarah keppada
kebutuhan saling cinta antara sesama manusia serta sifat-sifat luhur
·
timbul rasa takut kepada kematian yang
meningkat sejalan dengan pertambahan usia lanjutnya.
·
perasaan takut pada kematian ini berdampak
pada peningkaatan pembentukan sikap
keagamaan dan kepercayaan terhadap adanya kehidupan abadi (akhirat).
Hakikat manusia menurut al-Qur’an ialah
bahwa manusia itu terdiri dari unsur jasmani, unsur akal, dan unsur ruhani.
Ketiga unsur tersebut sama pentingnya untuk di kembangkan. Sehingga
konsekuensinya pendidikan harus di desain untuk mengembangkan jasmani, akal,
dan ruhani manusia. Unsur jasmani merupakan salah satu esensi ( hakikat )
manusia sebagai mana dijelaskan dalam al-Qur’an surat al-baqarah ayat 168:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
artinya
“ Hai sekalian manusia makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat
dari bumi, dan janganlah kamu
mengikuti langkah-langkah syetan karena sesungguhnya syuetan itu adalah musuh
yang nyata bagimu “
Akal
adalah salah satu aspek terpenting dalam hakikat manusia. Akal digunakan untuk
berpikir, sehingga hakikat dari manusia itu sendiri adalah ia mempunyai rasa
ingin, mempunyai rasa mampu, dan mempunyai daya piker untuk mengetahui apa yang
ada di dunia ini. Sedangkan aspek ruhani manusia di jelaskan dalam al-Qur’an
surat al-Hijr ayat 29:
فَإِذَا سَوَّيْتُهُ
وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُواْ لَهُ سَاجِدِين
artinya
“ Tatkala aku telah menyempurnakan kejadiannya, aku tiupkan kedalamnya
ruhku.kedalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud “
Dalam
hal ini Muhammad Quthub menyimpulkan bahwa eksistensi manusia adalah jasmani,
akal, dan ruh, yang mana ketiganya menyusun manusia menjadi satu kesatuan. Lain
halnya dengan al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah, beliau mendefinisaikan manusia
sebagai yang diciptakan dari satu gumpalan yang Allah gumpalkan dari segala
unsur tanah, yang tanah itu terdapat segala unsur yang baik, yang kotor, yang
mudah, yang sedih, yang mulia, dan yang hina.
Al-Imam
Ibnu Qayyim mendefinisikan manusia pada hakikat penciptaannya. Berangkat dari
asal penciptaannya, terlihat bahwa berbagai potensi ada pada diri seorang
manusia.
فَأَقِمْ
فَأَقِمْوَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ
عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ
وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Maka
hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah
Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan
pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui”
(QS. Al-Ruum 30)
Berdasarkan
ayat di atas, menjelaskan bahwa bagaiamana pun primitifnya suku bangsa manusia,
mereka akan mengakui adanya Zat Yang Maha Kuasa di luar dirinya. Dengan
demikian, rasa tunduk dan kepatuhan manusia kepada Zat Yang Maha Agung,
merupakan tabiat asli (fitrah) manusia yang dimiliki oleh setiap manusia
sebagai nilai ubudiyah kepada-Nya.
Dan
aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi
kepada-Ku” (QS. Adz-Dzâriyât 56)
Dari pembahasan di atas dapat di simpulkan bahwa pada hakikatnya
Allah swt menciptakan manusia di muka bumi ini adalah semata-semata untuk
mengabdi kepada-Nya dan untuk menjadi khalifah dimuka bumi. Hakikat penciptaan
manusia terdiri dari tiga unsur, yaitu unsur jasmani, unsur akal, dan unsur
ruhani, yang mana ketiga unsur tersebut menjadi satu kesatuan pada diri
manusia.
Daftar Pustaka
Prof.Dr.
H. Jalaluddin.2005
Amti, herman dan Prayitno. Dasar-dasar
bimbingan dan konseling. Jakarta: PT. Rineka Cipta. 2004
Al- Aliyy, Al-Qur’an dan terjemahannya.
(Bandung : CV Diponegoro, 2005).
Anas Abdul Malik al-Quz, Ibnu Qayyim
Berbicara tentang Manusia dan Semesta, Pustaka Azzam:
Jakarta, (2001), Hal: 21
Prof. Dr. Abuddin Nata, MA, Filasafat
Pendidikan Islam, Gama Media Pratama: Jakarta, (2005),
Hal:
81
http://makalahmajannaii.blogspot.com/2012/06/hakikat-dan-fitrah-manusia-dalam-al.html.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar